Selasa, 31 Desember 2013

CONTOH CERPEN BERTOLAK DARI PERISTIWA NYATA (IMAM)



CERPEN 1:
Aku harus Pulang

Berkuliah satu tahun  di Solo terasa sangat singkat. Namun, kenangan itu  masih tampak jelas di benakku meski sudah lebih dari dua puluh tahun berlalu.
Minggu pagi sebuah sepeda motor Yamaha bebek V 80 warna biru mendatangi  kosku. 
“ Ada acara nggak! Temen-temen ngajak sepedaan, ikut yuk…………………..!” demikian katanya sambil nangkring di motor. Aku agak bingung,nggak enak sama teman-teman kos. Tapi,aku tak ingin dia kecewa. “ Okelah tunggu sebentar!” aku mengikut saja. Saat kami telah meninggalkan kos, ternyata beberapa pasang teman telah menunggu kami.
Raka dan Nila paling depan menyusul Parno dan Reni, Beny dan Sinta, baru aku dan dia paling belakang. Kami susuri jalan Solo, Gajah Mungkur,Ponorogo, Madiun,Solo. Sepanjang jalan kami ngobrol ngalor ngidul  sambil menikmati apa yang ada di sepanjang jalan. Meski turun hujan lebat ketika memasuki wilayah Ponorogo, kami tetap melaju. Maklum, kalau sedang berdua tidak mengenal dinginnya hujan bahkan teriknya matahari. Dia semakin erat berpegangan . Aku sempat merasa was-was ketika memasuki wilayah Madiun jangan-jangan ada keluarga yang tahu.” Kuliah di Solo kok bisa klayapan di Madiun,” demikian cemoohku dalam hati.
“Allahuakbar,Allaaaaaaahuakbar !”adzan duhur mulai berkumandang. Kami sepakat untuk solat sambil beristirahat. Di masjid Al Ukuah Maospati kami memenuhi panggilan Illahirobbi menunaikan solat duhur sejenak sambil melulur sosok setelah sekian kilo meter kami tempuh .
“Sekalian untuk mengisi perut yang sudah mulai keroncongan,cari makan yuk!” ajak seorang teman.” Ya….mesisan”jawab kami kompak. Sambil mengamat-amati warung sepanjang jalan, kami melanjutkan perjalanan. Kami mampir di sebuah warung sederhana  di sebelah utara terminal Maospati. “Buk, soto 8,” Reni memesan. Memang enak masakan Bu Darmi. Tidak heran apabila pembeli keluar masuk. Memang menu soto cocok untuk kalangan menengah ke bawah. Termasuk kami para mahasiswa yang masih minta kiriman jatah orangtua. Semangkok soto ayam kampung panas rasanya sudah cukup untuk memulihkan perut yang bersenandung dan telapak tangan yang mengerut karena kehujanan.
Separuh perjalanan sudah kami lalui. Sepanjang jalan Maospati-Solo kami betul-betul menikmati. Hutan Ngawi berjajar menyambut kehadiran kami. Tak terasa kami sudah tiba di solo lagi. “Suwun ya,sampai ketemu esok” dekian katanya sambil membelok meninggalkan kosku.
Kini dia tengah berbagi cerita dengan para siswanya di sebuah SMP di Cilacap sebagaimana aku berbagi cerita dengan  para siswa di SMP Negeri Lembeyan. Aku sadar . Aku hanya bisa berkata “ Mohon maaf Retno, aku harus mengecewakanmu. Aku harus pulang ke Magetan.”


CERPEM 2:


1879
Delapan  belas orang tetanggaku dengan penuh canda menyerbu sawahku yang berada  di belakang rumah.Panen.Hari itu ,Senin 4 Maret 2012 berarti tepat tiga bulan dari waktu tanam. Setelah kupastikan jumlahnya, 15 gelas kopi kental dan 3 teh  manis siap diantar ke sawah.Segelas kopi atau teh panas tentu akan menambah semangat dan mengusir kabut pagi hari.
Rupanya mereka merupakan tim kerja yang sangat  kompak.Di antara mereka tanpa rasa iri sedikit pun .Sebagian besar mulai memotong rumpun padi yang masih tegak berdiri.Beberapa orang mempersiapkan tempat penggilingan. “Lereno wong, ikilo wedange,”kata seorang sambil menyeruput kopi yang sudah menempel di bibirnya. Seperti dikomando seorang komandan, semuanya berkerumun di bawah pohon dondong yang rimbun di tepi sawah.
Setelah minum,mereka kembali menruskan pekerjaan.Seperti biasanya mereka memotong rumpun padi lebih dahulu sampai cukup untuk mulai digiling. Tepat pukul 08.00,menu makan pagi sudah siap disantap. Nasi putih ,botok pelas,krawu ,dan tidak lupa krupuk bandung.Menu tersebut seakan tak pernah terlewatkan karena mereka memang cocok,apalagi masakan istri saya yang dikenal enak.
Seusai makan pagi, mereka tampak bersemangat.Tumpukan rumpun padi sudah siap untuk digiling.Secara otomatis terbentuklah tiga tim ada yang memotong,ada yang mengusung,dan ada yang menggiling.
Mesin giling mulai bekerja.Sak-sak mulai terisi dengan gabah yang tampak berdiri di sekitar penggilingan.Menjelang ashar sak-sak yang terisi gabah mulai diangkut dengan menggunakan artco ke depan rumah untuk dilakukan penimbangan.Sesuai dengan kesepakatannya setiap 8 kilogram gabah upah 1 kilogram gabah.
Dari hasil penimbangan ternyata panen kali ini mendapatkan 1879 kilogram.Setelah aku tahu jumlah tersebut,pikiranku seketika teringat dengan nomor polisi mobil carry kesanyanganku yang baru saja kujual dengan nomor AE 1879 N .Seketika itu anak bungsuku Ghalib Lutfi Hamid ”Kok i so Pak?” itulah rahasia illahi jawabku sambil tertawa “Ha ha ha….”





Tidak ada komentar:

Posting Komentar